Sejarah Jalur Kereta Api di Jatinangor, Dibangun Untuk Kebutuhan Militer

SUMEDANG, (KAPOL).- Jalur kereta api (KA) Rancaekek – Tanjungsari- Citali, merupakan lintasan cabang jalur KA di wilayah Priangan. Terletak di 17 Km arah timur Kota Bandung di lintas utama jalur Bandung – Yogyakarta yang sampai sekarang sebagai jalur lintas utama selatan pulau Jawa.

“Jalur tersebut, dibangun oleh SS dengan tujuan utama untuk kebutuhan pertahanan militer. Pada saat itu, Sumedang merupakan basis pertahanan strategis di timur Bandung dengan Cimahi pada jaman penjajahan Belanda,” kata Joni Martinus, Manajer Humas Daops II, PT KAI Bandung, kepada Kabar Priangan Online (KAPOL).

Dikatakan, pada saat itu asumsinya dengan memiliki jalur KA maka memungkinkan dan mempermudah pergerakan pasukan dan persenjataan dari Cimahi menuju Sumedang.

“Jalur itu pun, dibangun sebagai akses pendistribusian hasil perkebunan di kawasan Jatinangor,” katanya. Ia mengatakan, kawasan Jatinangor pada jaman dulu sebagai perkebunan teh “Cultuur Ondermemingren van Maats chappij”.

Lahan perkebunan itu, kata dia, kali pertama dibuka tahun 1841 dan pengelolanya W.A Baron Baud.

“Sekitar jalur KA disana, pada jaman dulu disebut wilayah Cikeruh (sekarang Jatinangor) dan menjadi bagian distrik Tanjungsari,” ucapnya.

Ia mengatakan, pembangunan jalur KA Rancaekek – Tanjungsari tujuannya untuk mempersingkat perjalanan ke pelabuhan Cirebon.

Bahkan, kata dia, untuk membuka akses dan perekonomian wilayah Sumedang yang juga sudah menjadi rencana pembangunan jalur Bandung – Cirebon.

“Jalur KA Rancaekek – Tanjungsari, dibangun pada 1916 sesuai Peraturan Negara/ Koninklijke Besluit tanggal 4 Januari 1916 serta sesuai lembaran negara Nomor 36, ” tuturnya.

Dikatakan, panjang jalur KA Rancaekek – Tanjungsari, 11, 2 Km dan kali pertama dioperasikan pada 13 Februari 1921.

“Stasiun dan halte di jalur itu, adalah Rancaekek, Bojongloa, Cikeruh, Cileles dan Tanjungsari,” ujarnya. (Azis Abdullah)***

Komentari