IKLAN
BUDAYA

Sekeseler, Para Penerus Kekuasaan Galuh (1)

Oleh: Johan Jouhar Anwari, S.Sos.,M.Si

Tulisan ini lahir dari sebuah diskusi panjang dengan Raden Gun Gun Gurnadi Gumelar Djajadiharja. Aki Gun Gun, begitu penulis menyapa, adalah turunan Galuh yang lebih separoh perjalanan hidupnya dihabiskan dengan berkelana mengumpulkan tulisan kuno, berisi silsilah dan catatan sejarah, serta dengan sukarela menerima titipan barang-barang atau perkakas di masa lalu.

Kalau anda berkunjung ke “Palinggihan” (kediamannya) di Jalan Pirus Galuh I Arcamanik Bandung, anda akan disuguhi pemandangan menakjubkan. Betapa ribuan senjata masa lalu, perkakas dan ribuan buku-buku serta lembaran catatan silsilah dan sejarah Galuh tertata dan tersimpan rapih. Tidaklah berlebihan jika rumahnya bak Museum maha besar, mungkin terbesar di dunia.

Tulisan ini pun menjadi untaian kalimat yang ada di depan pembaca, merupakan ‘faedah’ dari berkali-kali penulis berdiskusi kecil dengan sesepuh Wargi Galuh di Bandung dan Wargi Galuh Utama. Begitu pun kalimat demi kalimat dalam tulisan ini ada ‘berkah’ dari obrolan ringan di malam hari bersama para aktifis Tatar Galuh Ciamis setiap bersua di warung kopi sudut Alun – Alun Ciamis.

Pemilihan tulisan ini diawali oleh ringkasan sejarah Sang Manarah Siliwangi sudah menjadi menantu Raja Sunda, Prabu Susuk Tunggal. Cerita berawal, tatkala Jayadewata alias Prabu Digaluh Dewata Prana/Siliwangi pada tahun 1482 masehi dinobatkan sebagai Raja Galuh di karaton Surawisesa Kawali sebagai purasaba (pusat kota) kerajaan Galuh.

Pada tahun yang sama, Jayadewata di Purasaba Pakuan dinobatkan sebagai Raja Sunda menggantikan pamannya sekaligus mertua, yaitu Prabu Susuk Tunggal. Setelah menyandang jabatan Raja dari dua kerajaan besar –Galuh dan Sunda, Prabu Siliwangi memilih menetap di Pakuan. Dengan begitu Pakuan menjadi Purabasa Raja Sunda-Galuh dalam mengendalikan kekuasaan dua kerajaan besar yang akhirnya bersatu.

Adapun kekuasan kerajaan Galuh di Kawali diserahkan kepada sang adik yang bernama Prabu Ningratwangi sebagai sebuah kandaga lante (kerajaan bawahan) dari kerajaan Sunda Galuh lebih dikenal dengan nama Pajajaran -bangunan istana – istana keratonnya berjajar. Setelah Ningratwangi wafat digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Jayaningrat.

Pada tahun 1521 masehi Prabu Siliwangi di Purabasa Pakuan wafat yang menginspirasi Penguasa Kesultanan Cirebon yang bercorak Islam untuk memperluas kekuasaan dan menyebarkan Agama Islam di Galuh. Yang puncaknya pada tahun 1528 Masehi Purasaba Kekuasaan Galuh di Kawali direbut Cirebon, dan menjadi awal penyebaran Islam di wilayah Galuh.

Dampak nyata dari penguasaan Galuh Kawali oleh Pasukan Cirebon mengakibatkan keluarga Kerajaan Galuh eksodus menuju suatu daerah di Majalengka. Waktu itu masih merupakan daerah kekuasaan Talaga, dimana putra prabu Jayaningrat, Prabu Cakraningrat meneruskan kekuasaan Galuh di pengungsian, kemudian tempat tersebut menjadi sebuah wilayah kekuasaan bernama Raja Galuh.

Putra Prabu Cakraningrat menjadi penguasa di Palimanan, seperti Adipati Sutem dan Adipati Bogel dan turun temurun menjadi Adipati di kadipaten Palimanan.

Suatu kali dalam sebuah obrolan dengan penulis, Raden Gun Gun Gurnadi berstatment, “Kalau saja kerajaan Galuh masih berdiri, trah keluarga inilah yg refresentatif sebagai pewaris Kerajaan Galuh secara turun temurun, karena Galuh Kawali berikutnya, seperti Pangeran Dungku, Pangeran Bangsil, Pangeran Mahadikusuma, Apun Dianjung, Adipati Singacala, Dalem Singamerta, Dalem Mangkupraja dan lain-lain, merupakan keturunan dari Cirebon yang menganggap dan menjadikan Kawali sebagai Negeri Ageng,” kata Aki Gun Gun.*

Komentari

IKLAN
IKLAN
Direktur : H. Usman Rachmatika Kosasih
Pemimpin Redaksi : Duddy RS
Redaktur Pelaksana : Abdul Latif
Teknologi Informatika : Deni Rosdiana
Promosi dan Iklan : Nova Soraya
Kesekretariatan : Dede Nurhidayat, Sopi
Wartawan : Imam Mudofar, Azis Abdullah, Ibnu Bukhari, Astri Puspitasari, M. Jerry

Alamat Redaksi : Jl. RE. Martadinata No. 215 A Kota Tasikmalaya 46151

To Top