IKLAN
BUDAYA

Sekeseler, Para Penerus Kekuasaan Galuh (2)

 

Oleh: Johan Jouhar Anwari, S.Sos., M.Si.

 

*Galuh Pangauban Trah Sunan Haurkuning

Dipertengahan abad 16 di daerah Darma Kuningan ada keluarga yang berasal dari Parung -suatu daerah di Talaga, yaitu Sunan Haurkuning putra dari pasangan Prabu Pucuk Umum alias Ragamantri Rajapermana dengan Ratu Sedanglarang putri Ratu Parung putra Ratu Simbarkancana penguasa Kerajaan Talaga. Dengan garis silsilah Prabu Pucuk Umum putra Sunan Kabuaran dari Ratu Galih Lalayaran, putri dari Prabu Siliwangi dari Inten Kedaton.

Sunan Haurkuning memiliki 3 putra yang semuanya ikut pindah ke daerah baru di sebelah selatan  sungai Citanduy atau Cipeucang pada waktu itu (kini sekitar daerah Kalipucang Pangandaran).

Adapun para putra Sunan Haurkuning sebagai berikut, Maharaja Cipta, Maharaja Upama, dan Seureupan Agung yang membangun kekuasaan di Cijulang.

Maharaja Cipta berputra pertama, Tanduran Gagang alias Tanduran Agung yang berjodoh dengan Rangga Permana (dari Sumedanglarang) atau Prabu Dimuntur yang akhirnya membangun kekuasaan sendiri di Galuh Kertabumi, turunannya melahirkan para Bupati Kertabumi dan Ciancang Utama.

Putra yang kedua bernama Cipta Permana berjodoh dengan Tanduran Dianjung, dan putra yang ketiga bernama Sanghiyang Permana. Dari Prabu Ciptapermana melahirkan sang Adipati Panaekan, selanjutnya Adipati Panaekan memiliki putra Ujang Purba alias Kiai Mas Dipati Imbanagara, tokoh inilah yang melahirkan para bupati kadipaten Imbanagara.

Adapun Maharaja Upama, putra Sunan Haurkuning yang kedua, berputra Ki Gedeng Upama II atau kiai Gede Utama, berputra Santowan kolelet alias Dalem Wangsabaya, selanjutnya berputra Dalem Jangpati Jangbaya yang melahirkan para bupati Cibatu Nagri Ciamis, Ciancang Utama dan Kawasen berkolaborasi dengan sekeseler Adipati Panaekan.

Sedangkan Seureupan Agung yang berkuasa di Cijulang berputra Sunan Cihideung, selanjutnya berputra Adipati Hayam Canggong yang menjadi bupati Rancah pertama.

Hal ini berbeda dengan garis silsilah dan sejarah para penguasa Rajadesa, dimulai dari Ratu Lokadewata putri Siliwangi dari selir, berputra Prabu Senarasa, berlanjut ke Sunan Rancakikis, kemudian ke Sunan Baucau, ke Sunan Garahiang, ke Sunan Sumareja berputra Dalem Wiradesa.

Akhirnya putra Dalem Wiradesa yaitu Dalem Wiramantri menjadi bupati Rajadesa pertama. Dan berbeda pula dengan sejarah Panjalu yang bermulai dari Ratu Gurang Sajagat berlanjut ke Prabu Antaputih yang berputra Prabu Cakradewa berputra Prabu Borosngora yang akhirnya menurunkan para bupati Panjalu.

Melihat betapa banyaknya penguasa yang hidup satu jaman di abad 16, 17, 18 sampai awal abad 19 di wilayah inti Galuh, yang bersama-sama berdampingan ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara. Masing-masing penguasa memiliki kekuasaan serta mengolah administrasi pemerintahan sendiri punya tanggungjawab sama demi melanjutkan dan melestarikan trah Galuh.

Sedangkan dalam perjalanan sejarah Kabupaten Ciamis bercerita lain. Sama sekali tidak didapati perihal keberadaan kekuasaan lain di wilayah galuh yang bukan merupakan bawahan dari Kadipaten Imbanagara.

Salah satunya antara Kadipaten yang satu dengan yang lain bukan merupakan atasan atau bawahan, yang menyatukan hanya sebagai se-trah turunan galuh. Kenyataannya, Hanya para bupati Imbanagara lah yg ditulis dan dijadikan titik awal keberadaan Kabupaten Galuh maupun Kabupaten Ciamis.

Betapa penulisan sejarah Kabupaten Ciamis mengambil jalan gampang dan ringan saja, dengan mengesampingkan keberadaan penguasa atau para bupati lainnya dan eksistensi para bupati di wilayah galuh –selain Imbanagara, seolah tidak diakui dalam catatan sejarah resmi Kabupaten Ciamis.

Bagaimana nasibnya, sebuah penulisan sejarah hanya bertumpu kepada beberapa keterangan dari satu kekuasaan adipati yang pernah ada, dan mengabaikan sejarah kekuasaan adipati lain yang hidup se-jaman dan bukan merupakan adipati bawahan. Maka kasihan sekali kepada generasi berikutnya tatkala mendapatkan sejarah tidak utuh sebagaimana fakta semestinya, diwarisi sejarah yang salah.

Berbarengan munculnya kekuasaan Ciancang/Utama dan Cibatu Nagri Ciamis, kekuasaan keadipatian Kertabumi meredup sepeninggal Adipati Wirasuta (putra Apun Pager Gunung/Singaperbangsa III, bupati Kertabumi) ke udug-udug Karawang, dalam rangka mengemban tugas baru menjadi Mantri Agung Kawarang, yang setelah menjadi Adipati Karawang yang pertama bergelar Panayuda I. Adiknya, adipati Candramerta tidak mampu mempertahankan pamor Kertabumi.

Akhirnya karena para putra Wirasuta diangkat menjadi Bupati Ciancang Utama dan Karawang, maka wilayah kekuasaan Kertabumi digabungkan dengan Ciancang Utama. Sementara itu pada akhir abad 17 masehi Kadipaten Kawasen berakhir pula seiring dengan wafatnya Dalem Sutangga II, kemudian wilayahnya digabungkan dengan Kadipaten Imbanagara.

Begitu pun Kekuasaan Kadipaten Rancah berakhir sepeninggal Adipati Bandujaya, dan akhirnya masuk dalam kekuasaan Cirebon, sehingga menjadi sebuah daerah distrik dari Kesultanan Cirebon.*

Komentari

IKLAN
IKLAN
Direktur : H. Usman Rachmatika Kosasih
Pemimpin Redaksi : Duddy RS
Teknologi Informatika : Deni Rosdiana
Promosi dan Iklan : Aditya Hiracahya
Kesekretariatan : Dede Nurhidayat, Sopi
Redaktur : Abdul Latif
Wartawan : Jani Noor, Imam Mudofar, Azis Abdullah, Astri Puspitasari, M. Jerry

Alamat Redaksi : Jl. RE. Martadinata No. 215 A Kota Tasikmalaya 46151

To Top