Sembelih Sapi dan Kerbau Betina Produktif, Diancam Pidana

Kurungan 3 Tahun dan Denda Rp 300 Juta

BANJAR, (KAPOL).- Sapi dan kerbau betina produktif dilarang dipotong atau disembelih.

Larang tersebut diatur UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Demikian dikatakan Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, Arif Hidayat, disela-sela acara “Kordinasi dan Advokasi Pengendalian Pemotongan Ruminansia Betina Produktif Tahun 2019” di aula Kecamatan Pataruman, Kamis (11/4/2019).

Berdasarka Pasal 18, bahwa, setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif.

Kemudian, Pasal Pasal 86, menyebutkan sanksi pidana kurungan bagi orang yang menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun, dan denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 300 juta.

“Sebenarnya, larangan penyembelihan sapi betina dan kerbau produktif itu sudah diberlakukan sejak pemerintahan Belanda. Diantara tujuanya menjamin ketersediaan bibit ternak sapi dan mencegah berkurangnya ternak sapi betina produktif,” tutur drh Arif.

Dijelaskan dia, ternak ruminansia betina produktif, katagori besar yaitu sapi dan kerbau yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur dibawah 8 tahun.

Sementara, katagori kecil yaitu kami dan domba yang melahirkan kurang dari5 kali atau berumur dibawah 4 tahun 6 bulan.

“Penetuan ternak ruminansia betina tidak produktif ditentukan tenaga kesehatan hewan,” ujarnya.

Kasubdit Binmas Polda Jabar, AKBP Natasya, mengatakan, larangan penyembelihan sapi dan kerbau betina produktif, saat ini dilakukan personel Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas), dari Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri.

“Kami, Polri sudah melakukan MoU. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Kementrian Pertanian Ri dan Baharkam Polri untuk pengendalioan pemotongan ternak ruminasia bertina produktif, Nomor 09001/HK.230/F/05/2017 dan Nomor B/44/V/2017 tanggal 9 Mei 2017,” kata Natasya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian Dan Perikanan (DKP3) Kota Banjar, Drh. Aswin, MP dan Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Banjar, drh Iis Meilia, berharap, pemotongan sapi dan kerbau betina produktif berhasil dikendalikan.

“Larangan penyembelihan sapi betina bunting di rumah potong hewan sudah berjalan lama dan berhasil dilaksanakannya. Setiap sapi yang akan disembelih, diharuskan diperiksa dokter hewan dan dinyatakan tidak bunting,” ucap H. Aswin.

Dijelaskan drh.Iis Meilia, berdasarkan hasil analisa, pelaku usaha yang menyukai betina itu mencapai 70 persen dan jantan hanya 30 persen.

Diantara alasanya, harga betina lebih murah, ada kelebihan produk yang bisa dijual, pemahaman regulasi yang kurang dan kebutuhan ekonomi petani.

“Mengantisipasi permasalahan itu, diharuskan adanya perubahan prilaku dengan penertiban administrasi, advokasi dan sosialisasi, monitoring dan pembinaan,” kata seraya menjelaskan penyembelihan sapi di RPH Kota Banjar antara 4 sampai 6 ekor per hari.

Menurutnya, penertiban administrasi pada pengendalian pemotongan betina produktif yang dilakukan selama ini melalui peningkatan kordinasi dengan daerah asal pengirim ternak serta pendekatan persuasif dengan pihak pelaku usaha dan jagal.

Kegiatan “Kordinasi dan Advokasi Pengendalian Pemotongan Ruminansia Betina Produktif Tahun 2019”, dihadiri anggota kepolisian dari Polda Jabar, Polsek, Bhabinkamtimbas, pegawai RPH Banjar dan Ciamis serta pengusaha pemotongan hewan. (D.Iwan)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...