oleh

Siswa SDN Pasirhuni 2 Belajar Dengan Dihantui Kecemasan

CIAWI, (KAPOL).- Memprihatinkan sekali. Para siswa kelas 3 dan 4 SD Negeri Pasirhuni 2 di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya harus belajar dengan dihantui rasa kecemasan.

Bagaimana tidak, mereka belajar di ruang kelas yang kondisinya terancam ambruk dengan atap yang sudah di topang bambu dan tembok dinding retak.

Ironinya, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua tahun. Meski pihak sekolah sudah melaporkan dan memohon rehabilitas, namun tak kunjung terealisasi.

Dari pantauan “KAPOL” di SD Negeri Pasirhuni 2, Kamis (19/9/2019) terlihat dinding ruang kelas 3 dan 4 retak.

Agar tidak ambruk harus, pihak sekolah menyangga tembok yang retak agar tidak ambrol.

Adapun atapnya nyaris ambruk sehingga ditopang dengan dua batang bambu. Dua lubang juga menghiasi atap kelas.

Dua pelajar yakni Salwa dan Hilmi pelajar kelas IV mengaku saat belajar dihantui rasa was-was karena takut ruang kelasnya tiba-tiba ambruk.

Keduanya berharap, ruang kelas itu segera diperbaiki agar bisa belajar dengan nyaman tanpa dihantui rasa takut.

“Pengen secepatnya diperbaiki agar bisa tenang belajar. Karena selama ini ada rasa takut ambruk,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang tenaga pengajar, Iwa Kartiwa mengatakan kondisi ruang kelas 3 dan 4 ini sudah sejak dua tahun lalu.

Retaknya dinding diakibatkan getaran gempa, adapun kondisi atap selain akibat gempa juga kondisinya sudah lapuk dimakan usia.

“Atapnya melenoy nyaris ambruk. Sehingga ditopang dua batang bambu agar tidak ambruk,” ucapnya.

Menurutnya, upaya menopang atap itu dilakukan agar atap tidak ambruk dan ruang kelas masih bisa dipergunakan proses belajar mengajar.

Sebenarnya, sangat khawatir tiba-tiba ambruk saat sedang proses belajar mengajar.

Namun, karena tidak ada ruangan lagi sehingga dipaksakan. Sejak sekolah berdiri sekitar pada tahun 1980, pernah sekali direhab pada tahun 2013. Namun kejadian gempa merubah kondisinya,

“Kondisi atap yang mau rubuh itu sudah sekitar 3 tahun lalu, kemudian diperparah karena gempa 2 tahun silam. Makanya sebagai ihtiar kami topang pakai bambu,” tuturnya.

Dijelaskan dia, sekolah yang terakhir di rehab 2014 lalu, hingga kini belum pernah mengalami renovasi meski dengan kondisi seperti itu.

Segala upaya pihak sekolah sudah dilakukan mulai dari melaporkan sampai mengusulkan bantuan untuk merehab ruang kelas ke dinas terkait.

“Terakhir tahun kemarin kami sudah mengusulkan, dan sudah disurvei tapi sampai sekarang belum direhab,” tuturnya.

Dijelaskan Iwa, pihak sekolah tak bisa melakukannya karena ruangan kelas yang tersedia terbatas. Saat ini, SD Negeri Pasirhuni 2 hanya memiliki enam ruang kelas.

Bila langkah itu dilakukan, siswa bakal belajar secara bergantian pada pagi dan siang di ruang kelas yang masih aman. Sedangkan kelas yang rusak dikosongkan.

Hal tersebut pun sulit diterapkan karena para siswa terbiasa belajar dari pagi hari. Harapannya, pemerintah segera memperbaiki kerusakan sekolah, ungkapnya. (KAPOL)***

Komentar

News Feed