Situs Ki Buyut Bangun Tapa Butuh Perhatian

BAREGBEG, (KAPOL).- Situs budaya Ki Buyut Bangun Tapa yang berada di tengah Hutan Kota milik Pemda Kabupaten Ciamis, Dusun Selamanik, Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis butuh perhatian pemerintah.

Keberada situs budaya tersebut bahkan diyakini oleh warga sekitar bisa menghasilakn Pendapatan Asli Daerah ( PAD) bagi desa setempat maupun pemrintah Kabupaten Ciamis jika dikelola dengan baik.

Terlebih di lokasi tersebut banyak tersimpan cerita sejarah yang berkaitan dengan kebudayaan lokal kerajaan Galuh serta banyak kaitannya dengan sejarah penyebaran Agama Islam pertama di wilayah Kabupaten Ciamis.

“Ada banyak tersimpan sejarah di situs Ki Buyut Bangun Tapa, terutama banyak kaitanya dengan sejarah kerajaan Galuh,” Jelas Haer Hernara warga setempat.

Sepintas, kalau hanya dilihat dari ciri yang ada di dalam situs tersebut memang hanya terdapat beberapa pemakaman kuno yang hanya ditutupi dengan batu-batu bulat dengan ukuran yang cukup panjang.

Tetapi konon makam tersebut yang oleh warga setempat diberi nama Ki Buyut Bangu Tapa itu, banyak menyimpan cerita sejarah lokal. “Dan apa bila dirawat serta dilestarikan dengan benar tidak menutup kemungkinan situs tersebut dapat menghaslkan PAD, “ jelas Haer lagi.

Menurut dia, dengan banyaknya situs sejarah di Kabupaten Ciamis, situs Ki Buyut Bangun Tapa sudah layak dijadikan tujuan wisata budaya religi. Apalagi dengan berbagi cerita dan keunikan yang ada di lokasi tersebut.

Namun keindahan alam dan daya tarik lainya yang ada di situs Ki Buyut Bangun Tapa tersebut, tidak akan ada artinya tanpa ada campur tangan pemerintah dalam pengelolaannya.

Sementra Pjs Desa Saguling, Endang mengaku, keberada situs Ki Buyut Bangun Tapa tersebut berada di perbatasan antara Desa Saguling dan Desa Baregbeg.

Situs budaya Ki Buyut Bangun Tapa berada di kawasan hutan kota. Dan selayaknya ada perhatiannya dari pihak pemerintah.

Terlebih keberadaan hutan kota tersebut merupakan lahan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagi sumber air oleh warga setempat. (Endang Setia Budi). ***

Komentari