SMA Terbuka, Alternatif Supaya Seluruh Masyarakat Bersekolah

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Adanya program SMA Terbuka menjadi alternatif dan solusi bagi anak usia sekolah yang tidak dapat menjangkau SMA reguler, supaya tetap bersekolah.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Firman Adam, adanya SMA Terbuka sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak dapat menjangkau lembaga pendidikan setara SMA karena berbagai faktor, salahsatunya karena kondisi geografis.

“Biasanya begini, ada kelompok masyarakat di sebuah desa, misalkan, mereka mengenyam pendidikan hanya sampai SMP, karena SMA-nya belum dibangun pemerintah misalkan. (SMA) swasta tidak ada, negeri juga tidak ada. Maka kita layani melalui pembelajaran SMA terbuka,” kata Firman kepada “KP” usai sosialisasi PPDB di lingkup Cabang Dinas Wilayah XII yang dilangsungkan di Hotel City, Kota Tasikmalaya, belum lama ini.

Dalam program SMA Terbuka, 

akan ada sekolah yang membina yaitu sekolah induk. Adapun guru-guru yang mengajarnya adalah guru induk atau disebut guru kunjung yang mengajar di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) SMA Terbuka. “TKB-nya bisa di SMP, MTs, atau di manapun disesuaikan dengan kondisi setempat. Tapi itu sifatnya alternatif,” katanya.

Sekolah induk akan melakukan sebuah analisa, untuk menyesuaikan suatu kebutuhan SMA Terbuka tersebut, yang disampaikan ke Cabang Dinas Pendidikan melalui pengawas dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Diharapkan dengan adanya SMA Terbuka, semua anak usia sekolah dapat terlayani dalam mendapatkan pendidikan. “Mau mengikuti yang (sekolah) reguler boleh, SMA atau SMK reguler, atau konsep SMA Terbuka. Intinya semua anak usia sekolah bisa sekolah, semua anak bisa juara,” ujarnya.

Pihaknya juga mengajak lulusan SMP/MTs yang menempuh pendidikan di pesantren, untuk masuk juga ke lembaga pendidikan formal. Salahsatu SMA Terbuka yang dibuka sekolah induk di Kabupaten Tasikmalaya yaitu SMA Terbuka yang dibuka oleh SMAN 1 Cigalontang.

Kepala SMAN 1 Cigalontang, Drs. Aip Syarifudin, M. MPd. saat dihubungi terpisah mengatakan bahwa SMA Terbuka tersebut mulai dibuka tahun pelajaran 2017/2018 sesuai dengan intruksi dari gubernur Jawa Barat pada saat itu.

“Pertama dibuka mendapat antusias yang bagus, terbukti bisa membuka tiga Tempat Kegiatan Belajar (TKB). Kegiatan belajarnya ditempuh dengan tiga cara, yaitu dengan tatap muka seminggu dua kali, dominan online, dan gabungan tatap muka dan online,” jelasnya.

Selama satu semester berjalan, kata Aip, ketika diadakan evaluasi, ternyata ada beberapa kendala di antaranya siswanya banyak yang bekerja di luar daerah yang tidak melakukan komunikasi, sehingga dari total pendaftar hanya tinggal setengahnya yang bisa mengikuti KBM dan dinyatakan naik kelas.

Pada tahun kedua, untuk mengantisipasi siswa yang drop out, maka dibuat komitmen baik dengan siswa maupun orangtua siswa. “Alhamdulillah, sampai saat ini SMA Terbuka di Cigalontang sudah berjalan dengan mengefektifkan hanya dua TKB yaitu di Desa Lengkongjaya dan Desa Kersamaju dengan enam orang guru pamong,” katanya.

Adapun jumlah siswa yang tercatat di dapodik kelas X sebanyak 38 orang dan kelas XI ada 38 orang. Pada Sabtu pekan ini, para siswa akan mengikuti Penilaian Akhir Tahun (PAT). (Aji MF)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...