IKLAN
HUMANIORA

Tembok Tasik #3, Wahana Silaturahmi Para Writers

HARUM cat semprot, kumpulan pemuda kreatif bermasker dan lalu lalang laju kendaraan menghiasi Jalan Tundagan, Linggajaya, Mangkubumi Kota Tasikmalaya Minggu (9/7/2017).

Mereka menjadi sorotan masyarakat yang melewati jalan tersebut. Karena, acara menggambar “Tembok Tasik #3” yang menggunakan media tembok sepanjang kurang lebih 800 meter, itu merupakan yang terpanjang dan memakan waktu lumayan lama.

Proses menggambar yang dilakukan Writers sebutan pegiat grafiti itu dimulai dari hari Jumat (7/7/2017). Langkah awal dilakukan dengan memberikan warna dasar pada tembok yang akan digambar.

Lalu dilanjutkan hingga Minggu (9/7/2017) di spot gambar terakhir yang berlokasikan di belakang Hotel Crown Tasikmalaya.

Grafiti merupakan sub-kultur dan sudah ada sejak jaman purbakala dahulu. Coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu.

Alat yang sering digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.

Awal mula grafiti ada di Tasikmalaya sekitar tahun 2006, mulai ramai dan berkembang pada tahun 2010.

Bertemakan “Tropical Vibes” Tembok Tasik #3 ini, bukanlah kegiatan ilegal atau vandalisme yang sering dilakukan kalangan tidak bertanggung jawab.

“Ini bukan aksi vandalisme yang sudah sering kita lihat di pinggiran jalan di Tasikmalaya. Melainkan mempunyai nilai seni. Dan yang paling penting, kami meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik lahan yang akan digamba,” kata Cansame (26) salah satu writers dari Kota Tasikmalaya.

Kata dia pertama kali Tembok Tasik pada tahun 2014 dan diadakan secara rutin setiap tahun sekali. Dengan tujuan agar para “writers” bisa bersilaturahmi setiap tahunnya.

Meskipun cuaca hari itu sedikit mendung, acara Tembok Tasik #3 ini berjalan cukup lancar.

Pesertanya pun termasuk banyak hingga 100 writers yang berasal dari berbagai kota. Mulai dari Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Garut, Cimahi, Bandung, Jakarta, Depok, Bekasi, Tanggerang, Kendal dan Jombang.

“Para peserta acara grafiti ini dari berbagai kalangan. Dari pelajar, mahasiswa bahkan ada yang sudah bekerja,” jelasnya.

Walaupun tanpa sponsor, mereka rela merogoh kocek sendiri dengan cara patungan.

“Karena ini merupakan hobi, jadi yaah kita rela lah ngeluarin duit sendiri buat menggambar. Kita ingin memberikan citra yang positif terhadap masyarakat bahwa dengan menggambar di tembok itu bisa memperindah tembok itu sendiri,” jelasnya lagi.

Langkahnya pun dengan cara yang baik, seperti meminta izin dulu kepada yang punya tembok, tidak asal coret seenaknya.

“Selain berkarya, dengan acara ini kita jadi bisa ketemu temen-temen baru dari luar Kota Tasikmalaya dan nanti giliran anak-anak Tembok Tasik yang bakal di undang untuk menggambar di Tembok-tembok luar kota sana.” Ujarnya.

“Pada tahun 2016 lalu, kegiatan Tembok Tasik sempat terlewat dikarenakan beberapa faktor,” Tambahnya (Sutrisno)***

Komentari

IKLAN
IKLAN
Direktur : H. Usman Rachmatika Kosasih
Pemimpin Redaksi : Duddy RS
Teknologi Informatika : Deni Rosdiana
Promosi dan Iklan : Aditya Hiracahya
Kesekretariatan : Dede Nurhidayat, Sopi
Redaktur : Abdul Latif
Wartawan : Jani Noor, Imam Mudofar, Azis Abdullah, Astri Puspitasari, M. Jerry

Alamat Redaksi : Jl. RE. Martadinata No. 215 A Kota Tasikmalaya 46151

To Top