Terdakwa Pengibar Bendera Tolak Didampingi Kuasa Hukum

GARUT, (KAPOL).- Ada yang menarik dan berbeda dalam jalannya persidangan kasus membawa dan mengibarkan bendera atribut HTI di Pengadilan Negeri Garut, Senin (5/11/2018).

Tiba-tiba terdakwa kasus pengibaran bendera, Uus Sukmana menyatakan menolak untuk didampingi kuasa hukum yang berjumlah 7 orang.

Keputusan Uus ini tentu saja mengagetkan semua yang hadir dalam persidangan tersebut termasuk 4 orang kuasa hukum yang saat itu telah berada di ruangan sidang dan menempati tempat duduknya.

Merekapun berusaha memberikan pemahaman terhadap Uus akan tetapi Uus tetap bersikukuh menolak bantuan mereka.

Hakim tunggal yang memimpin jalannya sidangpun tak urung menunjukan keterkejutannya melihat dan mendengar keputusan Uus ini.

Bahkan ia pun sempaty berulangkali meyakinkan Uus atas keputusannya tersebut.

Yang lebih terkejut lagi saat itu tentu 4 orang pengacara yang sebelumnya disiapkan untuk mendampingi Uus selama persidangan.

Merekapun terus meyakinkan Uus agar tak mengambil keputusan yang salah sehingga menyesal pada akhirnya.

Para pengacara ini bahkan sempat mengingatkan Uus jika kehadiran mereka dalam persidangan ini sebelumnya atas kehandak Uus dan pihak keluarganya.

Merekapun menunjukan surat kuasa yang mereka pegang yang didalamnya terdapat tanda tangan Uus di atas materai.

“Kamu harus tenang dan jangan takut atau merasa tertekan. Kami disini untuk membantu kamu yang sebelumnya telah membrikan kuasa kepada kami untuk menangani kasus ini bahkan kamu sendiri yang telah menandatanganinya,” ujar salah seorang pengacara.

Namun entah apa yang saat itu ada dalam benak Uus sehingga ia tetap menolak untuk didampingi kuasa hukum.

Bahkan ketika tim kuasa hukum enyebutkan Uus harus mau membuat pernyataan tertulis atas keputuisannya itu, dengan tegas Uus menyatakan kesiapannya.

“Saya tak mau didampingi penasehat hukum. saya mau sendiri saja,” jawab Uus saat itu.

Melihat hal ini, hakim tunggal, Hasanuddin pun akhirnya mengiungatkan aturan yang berlaku dimana apabila terdakwa menolak untuk didampingi kuasa hukum maka hal itu tak bisa dipaksakan.

Hingga akhirnya dengan raut wajah kecewa, empat orang pengacara yang tadinya akan mendampingi Uus dalam persidangan pun terpaksa meninggalkan ruangan sidang.

Salah seorang advikat yang sebelumya disiapkan untuk mendampingi Uus, Anton Widiatmo, mengaku kecewa dengan sikap Uus yang menolak untuk didampingi.

Padahal saat pekan lalu bertemu, Uus sudah mengetahui untuk didampingi pengacara bahkan mau menandatangi surat kuasa.

“Kami melihat sepertinya dia (Uus) berada dalam tekanan sehingga sikapnya jadi berubah seperti itu. Kami akan cari fakta kenapa dia sampai menolak untuk didampingi,” komentar Anton.

Ia menyebutkan, sebelumnya orang tua dan keluarga Uus yang datang langsung kepada pihaknya dan meminta bantuan pendampingan hukum.

Atas dasar permintaan orang tua dan keluarga UUs tersebut, maka pihaknya kemudian menemui Uus di Mapolres Garut.

Ungkapan kekecewaan atas sikap Uus juga dilontarkan ayah Uus, Dadang (64). Ia pun mengaku kaget dengan sikap Uus yang dinilainya janggal tersebut.

“kami tentu kecewa dengan sikap Uus seperti itu. Padahal sebelumnya kami yang menginginkan agar Uus bisa dibela oleh pengacara sehingga kami datang ke pengacara untuk minta bantuan,” kata Dadang. (Aep Hendy S)***

Komentari