Ternyata, Tali Tambang Dari Saguling Sampai ke Australia

BAREGBEG, (KAPOL).-Desa Saguling, Kecamatan Baregbeg Kabupaten Ciamis yang selama ini terkenal dengan pengrajin ambon terekel ( surundeng) abon yang terbuat dari buah kelapa.

Ternyata terdapat salah satu karya kerajinan warisan leluhur yakni tali tambang. Terletak di Dusun Saguling Kolot Desa Sagulung Kecamatan Baregbeg.

Sebagian besar warga Dusun Saguling Kolot berpropesi sebagi pengrajin tali tambang.Mereka membuat tali tambang yang biasanya digunakan sebagi bahan untuk membuat kerajinan tangan untuk dikirim ke Tasikmalaya, Jogjakarat dan Australia.

Kegiatan masyarakat membuat tali tambang ini dapat terlihat di pinggiran jalan sepanjang jalur dusun tersebut. Tali dengan ukuran panjang puluhan meter dibentangkan persis di pinggir bahu jalan.

Sementra pekerja lain memutar roda untuk mngerol tali tersebut. Terdapat puluhan pengrajin tali di wilayah desa ini yang ditekuni secara turun temurun.

Pembuatan tali tambang di Desa Saguling ini sudah ada sejak tahun 1940, para pekerjanya selalu turun temurun. Awalnya, pembuatan tali ini meupakan tali dengan bahan ijuk atau pelepah pisang.

Namun, seiring perkembangan jaman, semakin berkembang pula pengunaan bahan baku tali yang saat ini sudah mengunakan bahan baku dari mendong, pandan. “Juga dari bahan pelastik sisa limbah atau disesuaikan dengan pesanan barang yang dikirim langsung oleh pihak yang punya modal,” jelas Ajan ( 70) salah seorang pengrajin tali tambang.

Saat ini iamemiliki pekerja binaan sebanyak 70 orang yang tersebar di tiga dusun yang berada di wilayah Desa Saguling. Rerata setiap orang pekerja mereka mendaptkan upah per harinya tidak kurang dari Rp. 50.000.00, bahkan kalau yang kerjanya sudah ahli pendapatnya bisa lebih,

“Lumayan bisa nambah pengasilan ibu- ibu dari pada unggal dinten ngan ukur ngrumpi,” jelasnya.

Menurut dia, setiap minggu para pekerja bisa menghasilakn tali tambang tiga hingga empat kuntal tambang. Harganya, variatif dari kisaran Rp. 800 hingga Rp. 1.000 per 20 meter tergantung dari bahan yang akan dibuat untuk tambangnya.

Pemesana berasal dari berbagi daerah, seperti Manonjaya, Tasikmalaya, Jogjakarat, Sumatra bahkan hingga ke Australia. Tali tambang yang diproduksi warga di sini itu digunakan untuk baha membuat kerajinan seperti kursi, tas, topi atau tikar.

Atem ( 75) salah seorang buruh pengrajin tambang mengaku menekuni pekerjaan tersebut merupakan warisan dari sejak jaman kakenya. Sehingga sejak dirinya mulai dewas sudah mulai menekuni pekerjaan tersebut.

“Kami sangat meras bersukur, di lingkungan ada peluang usah sehingga tidak harus jauh-jauh mencari pekerjaan ke kota, kami menekuni pekerjaan itu sejak masih sekolah di Sekolah Rakya ( SR) pada jaman itu,” ujarnya.

Sa ka emut abi, abi mah bububur teh di lembur janten tukan ngadamel tambang, tapi alhamdulilah, tina hasil buburuh eta teh, dugi katisa nyakolakan murangkalih lulus SMA. Oge aya nu kuliah,” katanya.(Endang Setia Budi) ***

Komentari