oleh

Teten Masduki Jadi Menteri, Keluarga Merasa Khawatir

WARGA Garut patut berbangga hati dengan terpilihnya Teten Masduki menjadi menteri di kabinet Indonesia Maju dibawah pimpinan Presiden Jokowi.

Teten yang dulu dikenal sebagai aktivis anti korupsi merupakan warga Garut pituin dan hingga kini orang tuanya masih tinggal di Limbangan, Garut.

Kebanggan dan kebahagiaan itu pulalah yang tentunya kini dirasakan pihak keluarga Teten di Garut.

Namun dibalik rasa bangga dan bahagia, juga ada rasa khawatir dengan kedudukan yang disandang Teten saat ini yakni sebagai Menteri Koperasi dan UKM.

“Keluarga besar kami tentu sangat bangga sekaligus bahagia karena Teten dipercaya oleh Presiden Jokowi untuk menduduki jabatan sebagai Menteri Kopersai dan UKM. Namun dibalik itu semua, terus terang ada kekhawatiran yang saya rasakan,” komentar Apit Masduki (59), kakak kandung dari Teten Masduki.

Diakui Apit, baik dirinya maupun anggota keluarganya yang lain tadinya lebih berharap agar Teten tetap menduduki staf kepresidenan di istana sebagaimana jabatan sebelumnya.

Namun ternyata pada kabinet pemerintahan Jokowi jilid II, Teten malah dipercaya menjadi menteri.

Apit menyebutkan, kekhawatiran yang dirasakannya karena Teten saat ini diangkat menjadi menteri cukup beralasan.

Dengan posisinya seperti sekarang ini, Teten tentu akan mengelola anggaran yang tidak sedikit.

Hal ini beda dengan saat ia masih sebagai staf kepresidenan yang tidak dipercaya untuk mengelola anggaran.

“Anggaran yang dikelolanya saat ini tidak sedikit dan inilah yang membuat kami khawatir dengan jabatan yang dipegang Tetem saat ini. Apalagi kita semua kan tahu background dia sebagai aktivis anti korupsi yakni sebagai pendiri ICW (Indonesia Corruption Watch),” ujar Apit saat ditemui di sekkretariat Garut Governance Watch (GGW) di Perum Rama Cipta, Tarogong Kidul, Rabu (23/10/2019).

Diakui Apit, begitu tersebar berita bahwa Teten juga dipanggil oleh Presiden Jokowi bersama sejumlah nama lainnya sebagai calon menteri, banyak anggota keluarga yang menelepon kepeda dirinya untuk menanyakan hal itu.

Demikian pula halnya ketika nama Teten Masduki secara resmi disebutkan menjadi Menteri Koperasi dan UKM, banyak pula keluarga yang kembeli mempertanyakan kebenarannya.

Selain banyak yang menyampaikan rasa bangganya, tutur Apit, tak sedikit pula anggota keluarga yang menyampaikan kekhawatirannya dengan kedudukan yang didapatkan Teten saat ini.

Kekhawatiran itu sama persis dengan apa yang dirasakannya begitu mendengar informasi jika adiknya itu masuk dalam daftar calon menteri yang dipilih Jokowi.

“Saya sangat mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan anggota keluarga karena hal yang sama juga memang saya rasakan. Yang nama-namanya menteri pasti akan mengelola anggaran yang tak sedikit serta tanggung jawabnya sangat besar,” katanya.

Ketika ditanya bagaimana reaksi sang ibu, Hj. Ena Hindasah ketika mengetahui anaknya dipercaya menjadi menteri oleh presiden, menurut Apit, tak ada reaksi berlebihan yang ditunjukannya. Apalagi diungkapkan Apit, saat ini usia ibunya sudah terbilang tua yakni sudah 84 tahun dan komunikasinya pun sudah agak susah.

Apit menyebutkan, Teten merupakan anak kelima dari delapan bersaudara sedangkan dirinya merupakan anak keempat.

Selain dikenal gigih, Teten juga dikenal sebagai anak yang pintar, berani, tegas, dan kritis meskipun di kalangan keluarga terbilang paling pendiam dan irit bicara. Jiwa kepemimpinan Teten memang sudah terlihat sejak masih muda.

Menurut Apit, pihak keluarga cukup kaget juga ketika pada Selasa malam kemarin Teten memberikan undangan ke keluarga untuk ikut hadir dalam acara pelantikan menteri kabinet Indonesia Maju.

Dalam undangan tersebut tertulis jika Teten akan dilantik menjadi Menteri Koperasi dan UKM.

Meski mengaku merasa khawatir dengan jabatan yang dipegang oleh Teten saat ini, akan tetapi Apit dan anggota keluarganya yang lain berharap agar Teten bisa mengemban amanat dengan baik.

Teten juga diharapkan bisa memberikan manfaat kepada nusa dan bangsa pada umumnya dan warga Garut khususnya.

Lebih jauh diungkapkan Apit, Teten menamatkan sekolah dasar (SD) dan SMP-nya di Limbangan.

Setelah itu ia meneruskan ke SMA di Cicalengka Bandung dan kemudian kuliah di IKIP (UPI Bandung) jurusan Kimia.

“Di kampus dia mulai aktif di sejumlah organisasi dan ikut di Senat. Di IKIP juga Teten jadi 10 lulusan terbaik,” kata Apit.

Apit juga menyatakan jika Teten sempat menjadi guru kimia di SMK Kimia di Tangerang.

Hal itu dilakoninya setelah ia lulus dari IKIP karena memang ada keharus untuk mengabdi jadi guru dan statusnya PNS.

“Teten jadi guru sekitar tujuh tahun malah ia juga sempat menjadi wakil kepala sekolah. Saat jadi guru, Teten sudah aktif di Lembaga Bantuan Hukum dan ia memang suka membantu orang,” ujarnya.

Dari sanalah Teten kemudian memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru dan lebih memilih fokus di LBH.

Keputusan Teten itu sempat ditentang keluarganya yang saat itu sangat menyayangkan apalagi saat itu statusnya sudah PNS. (KAPOL)***

Komentar

News Feed