Tolak LGBT, Ratusan Kepsek Gelar Deklarasi

GARUT, (KAPOL).-Reaksi terhadap indikasi maraknya keberadaan kaum lesby, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Kabupaten Garut terus berdatangan. Bukan hanya pernyataan keprihatinan, penolakan secara tegaspun kini sudah mulai bermunculan.

Seperti yang dilakukan ratusan kepala sekolah (kasek) SMP yang ada di Kabupaten Garut misalnya. Rabu (10/10/2018), bertempat di SMP Yos Sudarso, Kecamatan Garut Kota, mereka menggelar deklarasi penolakan terhadap keberadaan LGBT di Garut.

Kepala Bidang (Kabid) SMP pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Totong, menyebutkan aksi penolakan dilakukan para kasek SMP beragkat dari rasa keprihatinan dan kekhawatiran dengan indikasi maraknya keberadaan LGBT di Garut. Apalagi di media sosial marak akun grup yang mengatasnamakan gay SMP dan SMA Garut.

“Para kasek SMP yang ada di Kabupaten Garut ini semuanya sepakat untuk menolak keras keberadaan atau aktivitas LGBT di Kabupaten Garut. Apalagi keberadaan LGBT di lingkungan sekolah,” ujar Totong saat ditemui seusai pelaksanaan deklarasi.

Tak hanya menolak keras, seluruh kasek SMP tuturnya, juga menabuh genderang perang terhadap segala jenis kegiatan yang menyimpang termasuk LGBT.

Hal ini tak boleh dibairkan sehingga sama sekali tak boleh ada ruang sedikitpun bagi LGBT untuk tumbuh dan berkembang di Kabupaten Garut, ,apalgi di lingkungan sekolah karena jelas-jelas merusak generasi muda.

Totong menegaskan, deklarasi ini merupakan bentuk nyata perlawanan pihak sekolah terhadap
keberadaan dan aktivitas LGBT, khususnya yang melibatkan siswa. Berbagai upaya akan dilakukan Disdik dan sekolah untuk menangkal masuknya pengaruh negatif ke sekolah termasuk pengaruh LGBT.

Menanggapi beredarnya data jumlah siswa SMP dan SMA yang masuk grup gay yang mencapai riubuan, diakui Totong pihaknya belum bisa menerima hal itu. Ia menilai hingga saat ini belum ada bukti otentik dari data tersebut sehingga masih harus dipertanyakan kebenarannya.

“Data yang beredar katanya jumlah siswa SMP dan SMA yang menjadi anggota gay di Garut saat ini sudah mencapai ribuan. Semoga itu hanya viral di dunia maya saja karena hingga saat ini belum ada laporan baik dari pihak sekolah maupun orang tua siswa sehingga kami pun belum bisa menerima hal itu,” katanya.

Meskipun saat ini pemberitaan terkaiat maraknya keberadaan dan aktivitas kaum gay pelajar di Garut, akan tetapi Totong mengimbau para orang tua siswa untuk tetap tenang dan tidak perlu terlalu khawatir.

Namun di sisi lain ia meminta agar orng tua lebih intens dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya teritama saat di luar jam sekolah. Jauh sebelum berita maraknya keberadaan dan aktivitas kaum gay pelajar di Garut, diakui Totong pihaknya sudah terlebih dahulu melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya dengan mengeluarkan larangan siswa membawa HP ke sekolah.

Selain itu, ada juga program-program yang diluncurkan dengan tujuan memberikan pendidikan berkarakter bagi para siswa seperti program embun pagi, one day ane ayat, pengajian rutin, serta program lainnya.

Totong menyampaikan, apabila terbukti ada pelajar yang terlibat dalam kegiatan atau aktivitas gay atau lesby, langkah pertama yang harus dilakukan pihak sekolah adalah melakukan pembinaan dengan harapan siswa tersebut bisa kembali normal.

Namun apabil upaya pembinaan sudah tak mampu lagi mengubh karakter siswa tersebut, maka tindakan tegas hingga mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah bisa saja dilakukan. Hal ini tambahnya, perlu juga dilakukan untuk memberikan efek jera dan pembelajran bagi siswa yang lainnya. 

Lakukan Pembinaan

Sementara itu Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Garut, Yusuf Satria Gautama, mengatakan kegiatan deklarasi penolakan LGBT ini diikuti 384 kepala sekolah SMP yang ada di Garut. Tidak hanya aksi penolakan, para kepala sekolah pun tentu akan melakukan pembinaan kepada para siswa di sekolahnya masing-masing.

“Kegiatan deklarasi ini diharapkan ditindaklanjuti dengan dilakukannya pembinaan di sekolah
masing-masing sehingga deklarasi ini bukan hanya kegiatan seremonial saja. Pembinaan dan
pemantauan terhadap sdiswa harus lebih ditingkatkan guna mencegah mereka terjerumus kepada hal-hal yang bersifat negatif termasuk aktivitas LGBT,” ucap Yusuf.

Terpisah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Garut, Wahyudijaya, menyampaikan jika pihaknya sudah mendeteksi akun-akun dan admin grup gay tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian dan dinas terkait untuk penanganannya.

“Sekarang masih dalam proses penelusuran. Tapi sebagian sudah kami dapat nama akunnya. Nanti tentu ada sanksi tegas dari aparat karena sudah merusak moral,” kata Wahyu.

Masih menurut Wahyu, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Garut. KPA telah memberikan simpul-simpul keberadaan para LGBT di Garut.

“Ada sejumlah titik kumpul mereka yang sudah berhasil kita ketahui. Pastinya hal ini akan kita
tindaklanjuti dengan melakukan penanganan yang akan melibatkan pihak terkait lainnya,” ujar
Wahyu. (Aep Hendy S)***

Komentari