TVRI Tidak Hanya Saluran Pemersatu Bangsa

Oleh Ade Kartini

SEPTEMBER penuh semangat TVRI dengan jargon dalam tagar kami kembali sepertinya memang ingin mengembalikan kejayaannya di masa lalu.

Masa yang tak ada siaran stasiun televisi lain selain TVRI. Dalam bungkus kotak ajaib yang hanya memiliki dua warna, ia hadir mengisi waktu rehat keluarga Indonesia di zaman sebelum muncul stasiun tivi swasta di awal tahun 90-an.

Kehadiran TVRI memang tak bisa lepas dari sejarah bangsa ini, terutama dalam penyelenggaraan asian games yang baru saja berakhir. TVRI lahir dan berusaha menghadirkan serta menyuguhkan peristiwa fenomenal tersebut ke seluruh penjuru bumi.

Beberapa program dan acara TVRI menjadi acara favorit yang sangat dinantikan oleh para pemirsa, selain film dan drama yang gemilang di zamannya beberapa program lain menjadi sangat dinanti seperti dari desa ke desa atau dari gelanggang ke gelanggang.

Tahun ini TVRI nampak menyadari akan kenangan indah di benak pemirsa masa lalu yang masih layak untuk ditayangkan dan disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Tayangan syarat nilai dan makna, tak ada kemewahan, tidak mengandung hal hiperbola yang tak masuk akal, sederhana, dan memiliki pesan dan misi yang kuat.

Sebut saja debut dua film drama yang bulan ini ditayang ulang adalah serial Oshin dan Little House in the Prairie. Serial ini tayang berturut-turut di Sabtu malam tepat di jam istirahat. Bagi anak dan remaja zaman old bahkan para orang tua di masa itu, hal ini mengembalikan masa yang telah berlalu itu seakan tampil kembali di pelupuk mata.

Kali ini menikmati Oshin di saat gawai dan telepon pintar sudah mengunci kehidupan pribadi individu saat ini tentu memberikan kesan tersendiri. Sebuah kesan dan pesan yang tak akan bisa dinikmati dan didapat dari sinetron yang berseliweran mengisi waktu-waktu prima.

Atau dari tayangan hiburan lain yang bertengger dengan pemasang iklan terbanyak. Sebuah nilai perjuangan hidup yang ditawarkan di episode-episode pertama Oshin memberikan suguhan pesan hidup dan kehidupan. Menampilkan sebuah arti perjuangan mengisi dan memaknai hidup melalui sebuah perjuangan yang tak kan terlepas dari sebuah pengorbanan.

Beda lagi dengan sebuah serial Amerika sesudahnya, Michael Landon yang memerankan seorang ayah yang dikasihi dan dicintai keluarga. Sosok ayah didamba oleh seluruh keluarga karena kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Hubungan orang tua anak, anak orang tua, dan hubungan antar saudara, kakak adik dan sebaliknya disuguhkan dengan sangat manis di beberapa episode awal. Saling menghormati, mengerti, menghargai, menghukum tanpa kekerasan, dan menyuguhkan komunikasi keluarga yang sederhana namun bermakna.

Dengan latar beberapa tokoh antagonis, serial ini tidak lantas mengurangi isi pesan apik serial ini. Ia justru menjadi pelengkap sempurna media pengambilan dan penyelesaian konflik yang tak menyakiti satu sama lain. Dan semua konflik berakhir manis yang syarat pesan moral.

Menikmati dua tayangan di atas bukanlah hal yang muluk jika TVRI bukan saja saluran pemersatu bangsa. Ia akan menjelama lebih dari itu, TVRI bisa menjadi media pemersatu keluarga kembali.

Saat media sosial menggurita di kehidupan generasi Z dua tayangan di atas bisa menjadi metode alternatif yang digunakan keluarga milenial saat ini. Ia bisa dijadikan sarana keluarga untuk mempererat dan membangun hubungan antar anggota keluarga yang saat ini bisa jadi tak sehangat dan seintim di zaman TVRI menjadi satu-satunya saluran televisi yang menguasai langit Indonesia.

Apalagi dengan pemilihan waktu Sabtu malam tepat di saat aktivitas satu pekan berakhir. Saat tepat bagi keluarga berkumpul dan menikmati kebersamaan.Kenyataan ini sebaiknya dan seharusnya dijadikan momen penting bagi para orang tua milenial guna kembali membentuk sebuah keluarga yang tangguh.

Mengajak seluruh anggota keluarga menyaksikan dua serial tersebut bisa menjadi langkah alternatif untuk menyatukan dan mengembalikan kehangatan keluarga. Sejenak memisahkan para anggota keluarga dari gawai dan duduk bersama membangun komunikasi keluarga.

Menjalin komunikasi aktif efektif bisa dilakukan orang tua saat membahas isi cerita film sambil bernostalgia dengan masa film tersebut baru ditayangkan. Mentransfer nilai dan petuah secara implisit tanpa harus disampaikan langsung dari lisan orang tua dan tanpa harus ada kesan menasihati dan menggurui.

TVRI kembali dan menjelma dengan program yang dirancang oleh direktur yang memiliki visi kekinian, meyakinkan bahwa TVRI bisa menjadi media yang tidak hanya menyuguhkan tontonan melainkan sebuah tuntunan.

Pemilik tagar kami kembali ini justru akan memiliki arti yang lebih luas tidak hanya akan bersumbangsih besar secara global untuk seluruh tanah air. Jargon saluran pemersatu bangsa ini akan memiliki arti penting yang lebih luas. Ia bisa tampil sebagai media pembentuk dan pembangun karakter keluarga Indonesia.

Membantu para orang tua, pendidik dalam membentuk dan membangun kararkter anak bangsa. Pun selaras dengan program pendidikan dari pemerintah melalui penguatan pendidikan karakter TVRI bisa menjadi bagian penting dari program ini.

Misi suci ini diharap tidak lepas dari tubuh TVRI agar ia menjadi satu-satunya stasiun tivi yang sarat tayangan penuh arti. Kelak, TVRI bukan hanya sebagai saluran pemersatu bangsa namun ia bisa menjadi saluran perekat keluarga dan masyarakat Indonesia.***

(Ade Kartini, pengajar di MA Al-Choeriyyah Cibeas Singaparna dan pegiat Nasyiatul Aisyiyah Jawa Barat)

Komentari