Warga Miskin di Sekitar Kita Bisa Luput

image
Empat tahun Maulana bersama istri dan emoat orang anaknya tinggal di gubuk tak layak | ERWIN R WIDIAGIRI/"KP"

MANGKUBUMI, (KAPOL).-
Hampir selama empat tahun, Maulana (25) bersama istri dan ke empat orang anaknya harus tinggal di rumah gubuk berukuran 4×5 meter persegi di Kampung Bojong RT 01 RW 12 Kelurahan Cipari Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya.

Pria muda yang sehari-hari berkeliling menawarkan jasa mainan odong-odong dan sesekali berjualan cilok mengungkapkan jika hujan rumahnya kerap kali bocor.

Selain atap gubuknya yang berlubang , belum dinding rumah yang terbuat dari bambu itu, Maulana hanya bisa menutupinya dengan baju bekas untuk menahan udara dingin dan sebuah kasur lusuh cukup sekedar memberi hangat untuk bayi mereka.

Rumah reyot yang menjadi tempat tinggalnya itu dibangun di atas tanah milik warga sekitar. Dirinya hanya menumpang dan tidak menyewa lahan tersebut. Namun hanya diberikan ijin menempati area itu. Tapi jika lahan itu akan dipakai oleh pemiliknya maka Maulana harus rela meninggalkannya. Hingga saat ini dirinya tidak memiliki rumah tinggal tetap. Bahkan untuk sekedar menyewa rumah petak atau kontrakan dirinya tidak mampu karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja kelimpungan.

“Untuk makan, ya kami cukup-cukupkan,  Alhamdulilah kalo kami ada rejeki dari mengayuh odong-odong ya kami sempatkan untuk beli susu,” ujar Maulana dengan suara agak gemetaran seraya berucap bahwa dia tinggal di gubuk itu bersama istri dan tiga anaknya yang masih balita.

Disinggung apakah pernah mendapat bantuan dari Pemerintahan Kota, Diakui Maulana, selama tinggal di daerah itu, dirinya dan keluarga belum pernah terdata oleh pemerintahan setempat. Baik BLSM maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Boro-boro diberi bantuan dari pemerintah jika anak sakit cukup dikompres tidak pernah dibawa ke Rumah Sakit,” ujarnya.

Penghasilannya sendiri, kata Maulana, rata-rata per hari mendapatkan Rp 25.000 rupiah itu pun jika banyak anak yang menggunakan jasa odong-odongnya. Sementara jika usahanya sedang sepi dirinya terkadang meminjam uang kepada tetangga sebagai alternatif terakhir.

Dirinya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk sekedar meringankan bebab hidupnya. Berharap bisa masuk data sehingga keluarganya bisa menerima jika ada kucuran dana bantuan pemerintah.

Keluarga Maulana adalah salah satu dari 600 lebih warga miskin yang ada di kelurahan Cipari. Namun keluarga ini luput dari data RT/RW setempat yang tidak melaporkan adanya warga miskin di wilayahnya.

“Sampai saat ini kami harus cek dulu, karena kami tidak menerima data dia dari RT/RW setempat. ” ujar Asep Lurah Cipari saat dimintai keterangan di ruang kerjanya, Rabu (27/4/2016). (Erwin RW)

Komentari