Waspada, Jelang Pilkada Simbol Tertentu Mirip Salam Literasi

BANJAR, (KAPOL).- Ketua Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK), Siti Maroah, menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.

Terutama dan tidak terkecuali bagi para pegiat literasi saat memasuki musim Pilkada 2018 ini.

Ajang Pilkada Kota Banjar 2018, ditenggarai adanya pasangan calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota yang menggunakan simbol-simbol tertentu, diindikasikan menyerupai Salam Literasi.

Yaitu, yel wajib yang banyak digunakan dalam kegiatan literasi.
Menurut Siti, Salam Literasi itu biasanya ditunjukkan dengan telunjuk mengacung dan jempol menyamping membentuk huruf L. Simbol ini sudah lama digunakan dalam gerakan literasi.

“Simbol huruf L (salam literasi) itu, kini dipakai salah satu Paslon dalam Pilkada Kota Banjar. Berlatar itu, pegiat Literasi diharuskan berhati-hati dalam melakukan kegiatan. Jangan sampai kita dianggap dan diasosiasikan mendukung salah satu Paslon tertentu,” ucap Siti Maroah, Rabu (17/1/2018).

Menyusul situasi tersebut, dikatakan dia, YRBK telah melayangkan surat kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kota Banjar, berisi permohonan agar panitia penyelenggara pemilu tersebut membuat himbauan kepada Paslon untuk tidak menggunakan simbol dan yel kampanye yang menyerupai simbol dan yel gerakan literasi.

Sekretaris YRBK, Ivan Mahendrawanto, SH, jika himbauan ini tidak mendapatkan tanggapan sesuai yang diharapkan, pihaknya perlu menyampaikan klarifikasi. Bahwa, simbol gerakan literasi seperti halnya Salam Literasi itu, adalah simbol yang sudah sejak lama digunakan dalam gerakan literasi.

“Sama sekali, ini (Salam literiasi, berbentuk huruf L) tidak ada kaitannya dengan kampanye Paslon tertentu dalam Pilkada Kota Banjar,” katanya.

Menurut Ivan, YRBK juga telah menyampaikan surat himbauan kepada sekolah dan pegiat literasi masyarakat umumnya, agar untuk sementara waktu tidak menggunakan simbol-simbol yang mirip dan digunakan Paslon tertentu dalam kampanye.

Tujuannya, dikatakan dia, agar gerakan literasi yang kini cukup massif tidak diasosiasikan sebagai bentuk dukungan kepada salah satu Paslon tertentu, sehingga hal ini dapat merugikan citra gerakan literasi.

“Untuk sementara, salam literasinya diucapkan sambil mengangkat buku saja, tanpa diiringi telunjuk mengacung dan jempol menyamping membentuk huruf L sehingga dikhawatirkan menyerupai simbol Paslon tertentu,” ujar Ivan. (D.Iwan)***

Komentari