BANDUNG – Fenomena lonjakan harga tiket pesawat domestik dan internasional menjelang periode libur panjang (long weekend) pertengahan Mei 2026 berdampak langsung pada peta pariwisata regional. Kota Bandung diprediksi akan mengalami banjir kunjungan wisatawan seiring dengan beralihnya preferensi publik dari perjalanan udara ke destinasi jalur darat yang lebih ekonomis, khususnya bagi penduduk di wilayah Jabodetabek.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa Kota Kembang akan menjadi titik fokus kepadatan pelancong selama akhir pekan panjang yang berlangsung pada 14 hingga 17 Mei 2026. Analisis pemerintah kota menunjukkan bahwa Bandung kembali menjadi pilihan utama bagi warga yang membatalkan rencana perjalanan jarak jauh akibat beban biaya transportasi udara yang tidak kompetitif.
“Saya sudah mendeteksi, tapi belum memastikan, bahwa dengan naiknya harga tiket pesawat, maka banyak orang yang tadinya mau liburan ke Bali atau bahkan ke luar negeri membatalkan liburannya, dan rata-rata akan liburan ke Kota Bandung,” ujar Farhan saat memberikan keterangan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Rabu (13/5/2026).
Farhan menambahkan, indikator kenaikan ini sudah terlihat jelas. “Jadi Kota Bandung padatnya akan luar biasa,” sambungnya.
Efek Substitusi Destinasi
Kenaikan harga tiket pesawat ke destinasi populer seperti Bali telah menciptakan efek substitusi yang kuat. Dalam teori ekonomi pariwisata, Bandung sering kali memetik keuntungan sebagai “destinasi pengganti” karena aksesibilitasnya yang unggul. Jarak tempuh yang singkat melalui jalur darat dari Jakarta dan sekitarnya menjadikan Bandung solusi paling logis bagi keluarga yang ingin berlibur tanpa harus terbebani anggaran penerbangan yang membengkak.
Kondisi ini diperkuat dengan infrastruktur tol yang kini telah terintegrasi penuh, memungkinkan arus kendaraan pribadi mengalir lebih cepat menuju jantung Jawa Barat.
Gebrakan Budaya dan Olahraga Nasional
Selain faktor ekonomi transportasi, daya tarik Bandung pada libur panjang kali ini juga didorong oleh sejumlah agenda besar. Salah satu yang paling dinantikan adalah puncak perayaan Milangkala Tatar Sunda. Setelah sukses digelar secara bergilir di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, Kota Bandung dipilih sebagai lokasi penutupan yang megah.
“Libur panjang kita mulai dengan sebuah gebrakan yang luar biasa yaitu Kota Bandung menjadi puncak dari Milangkala Tatar Sunda. Ini gebrakan pertama tahun ini,” kata Farhan. Pemerintah kota berkomitmen memastikan acara tersebut berjalan sukses dan aman, guna memberikan kesan mendalam bagi wisatawan.
Sektor wisata olahraga juga turut menyumbang angka kunjungan melalui ajang lari Bank BJB Bandoeng 10K 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Mei. Event ini diprediksi membawa ribuan peserta dari luar kota, seperti Tangerang, Surabaya, dan Semarang, yang biasanya datang bersama keluarga dan kerabat.
Antisipasi Kepadatan dan Euforia Bola
Tantangan keamanan dan ketertiban juga menjadi perhatian serius. Wali Kota Farhan menginstruksikan jajarannya untuk mengantisipasi potensi konvoi besar-besaran oleh para pendukung Persib Bandung (Bobotoh) pada hari Minggu mendatang. Hal ini berkaitan dengan laga krusial Persib Bandung melawan PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare.
Jika Persib berhasil meraih kemenangan, diprediksi akan terjadi euforia massa di berbagai wilayah Kota Bandung. “Tentu saja kita antisipasi konvoi pasca Persib vs PSM,” tegas Farhan.
Kesiapan Infrastruktur Kota
Dengan proyeksi kepadatan yang masif, pemerintah kota mengimbau warga lokal dan wisatawan untuk mengantisipasi kemacetan di jalur-jalur utama wisata. Penumpukan kendaraan diprediksi akan terjadi di area pusat kota, kawasan belanja, hingga jalur menuju Bandung Utara.
Meskipun lonjakan ini membawa berkah ekonomi bagi sektor perhotelan dan UMKM, manajemen lalu lintas dan pengelolaan layanan publik tetap menjadi prioritas utama agar kenyamanan wisatawan tetap terjaga di tengah keterbatasan kapasitas ruang kota.
Sumber referensi berita: Kompas.com (14 Mei 2026)











